Potret kampung kue Rungkut tampak depan gapura. (Foto: Dimas Fajar Maulana)
Surabaya – Kue, merupakan salah satu camilan yang paling kita jumpai di sekitar kita. Jajanan ini biasanya dapat kita jumpai di pasar ataupun toko kelontong. Namun di salah satu daerah di Surabaya tepatnya di jalan Rungkut lor gg. 2 di daerah Rungkut Surabaya terdapat salah satu kampung yang dikenal dengan nama Kampung Kue Rungkut yang menyajikan kue-kue jajanan di sepanjang jalan kampung.
Bermula dari kegelisahan warga sekitar yang keseharianya hanya nongkrong di depan rumah, Bu Irul sebagai penggagas Kampung Kue Rungkut yang juga menjadi ketua paguyuban Kampung Kue Rungkut menginisiasi dan mengajak ibu-ibu sekitar untuk berjualan kue di depan rumah. Ajakan ini pun disambut baik oleh warga sekitar sehingga setiap rumah menjajakan kue-kue camilan sebagai salah satu mata pencaharian.
“Ya Alhamdulillah mas sejak berjualan disini ada tambah-tambahan untuk keluarga, apalagi kan bapaknya kerja bangunan kalua lagi kosong juga bantuin saya membuat kue,” Kata Ibu Sumarti (51) yang merupakan salah satu pedagang kue di kampung kue Rungkut.
Beliau mulai berpindah dari Jombang ke Surabaya sejak Tahun 1995 lalu terkena PHK pabrik dan akhirnya mulai berjualan kue. “Apalagi pas kemaren Ramadhan orderan lumayan banyak mas buat berbuka gitu kan,” Tambah beliau.
Dengan adanya Kampung Kue Rungkut tak hanya membuka lapangan pekerjaan bagi pembuat kue. Dengan semakin ramainya Kampung Kue Rungkut, mengharuskan adanya penataan kendaraan bermotor agar tidak terjadi penumpukan yang mengakibatkan kemacetan. Kegiatan ini melibatkan warga sekitar lingkungan untuk bekerja sama sesuai keahlian masing-masing agar saling mendapatkan penghasilan satu sama lain.
Kekompakan lingkungan tersebut terbentuk tak terjadi begitu saja, “Jadi kita semua pedagang ini dikoordinasi sama Ibu Irul mas sebagai Ketua Paguyuban, jadi kita semua kalau ada info apa-apa atau ada pihak dari luar atau kita kegiatan apa aja yang ngasih info sama yang ngarahin sama Ibu Irul mas sebagai Ketua Paguyuban” Ibu Sumarti menerangkan.
Dalam kawasan Kampung Kue Rungkut, terdapat banyak sekali kue-kue jajanan tradisional seperti lumpia, risol, onde-onde, kue bolu dan masih banyak jajanan yang lainya. Harganya pun masih tergolong terjangkau, mulai dari 1500 – 5000 an saja. Konsumen pun dapat melakukan pemesanan secara online melalui kanal media sosial masing-masing pedagang.
Potret salah satu pedagang yang masih eksis berjualan di Kampung Kue Rungkut. (foto: Dimas Fajar Maulana)
Kampung Kue Rungkut menjelma sebagai salah satu daya tarik wisata kuliner di Surabaya, kampung ini juga menjadi tempat edukasi bagi mahasiswa-mahasiswa magang dari berbagai kampus untuk belajar langsung terkait bagaimana pembuataan kue, pengelolaan hasil penjualan kue, serta bagaimana tetap memasarkan kue di sosial media.
“Oh, lumayan sering dibuat mahasiswa magang mas, ya saya taruh di kios aja sebagai rumah produksi, ada sekitar enam atau delapan kampus yang pernah kesini magang, jadi ya mereka rebutan masuk ke tempat saya,” Cerita Ibu Sumarti.
Kampung Kue Rungkut mulai padat pedagang dari jam setengah empat pagi, dimulai dari bersih-bersih area jualan sampai mulai datang pembeli dan tengkulak jam empat pagi hingga jam enam pagi.
“Ya kalau lewat jam enam pagi masih ada mas tapi kuenya tidak lengkap,” ungkap Ibu Sumarti ketika ditanya jam operasional Kampung Kue Rungkut.
“Jadi ya Alhamdulillah mas dengan adanya Kampung Kue Rungkut ini sedikit demi sedikit bisa memperbaiki ekonomi warga sekitar juga, bisa menambah kesibukan ibu-ibu biar gak terlalu sering gibah, juga bisa mempekerjakan bapak-bapak yang lagi nganggur,” Pungkas Ibu Sumarti.
Hadirnya Kampung Kue Rungkut dapat membantu mendongkrak perekonomian warga sekitar, warga yang semula hanya duduk-duduk dan bercengkrama sekarang disulap menjadi salah satu tulang punggung ekonomi keluarga. Manfaatnya tak hanya berdampak pada lingkungan sekitar, namun juga sebagai bahan edukasi untuk mahasiswa sebagai ruang belajar dan praktek secara langsung.
Hadirnya Kampung Kue Rungkut diharapkan menjadi salah satu kampung percontohan untuk lingkungan lainya untuk memaksimalkan potensi SDM yang ada.
Grafik Mengenai Jumlah Pedagang Pasar Kota Surabaya tahun 2021-2023
Dalam grafik data diatas, menunjukkan bahwa adanya penurunan jumlah pedagang yang ada di pasar area kota Surabaya. Hal tersebut bisa terjadi karena beberapa hal seperti kepindahan pedagang ke platform online, harga sewa bangunan yang tiap tahun naik sehingga keuntungan tidak menutup, atau alasan lain.
Dalam praktik di Kampung Kue Rungkut, sebagian besar penjualnya adalah ibu rumah tangga dan bapak-bapak. Besar harapan dari penduduk sekitar bahwa kawasan ini akan tetap terus ada sehingga perlu adanya regenerasi dengan cara mengajak, mengenalkan dan memberi kesempatan kepada pemuda-pemuda untuk ikut turut serta menjadi bagian dari Kampung Kue Rungkut agar kelak kawasan ini tetap ada dan menjadi ikon wisata kuliner di daerah Rungkut.
Penulis: Dimas Fajar Maulana (2404301018)
Editor: Lovita Fatihah Fijrin (24043010012)
Editor: Lovita Fatihah Fijrin (24043010012)