Surabaya - Di balik megahnya pusat perbelanjaan modern, Pasar Atom masih mempertahankan eksistensinya lengkap dengan ragam kuliner. Terselip sebuah narasi kuliner yang tidak hanya memanjakan lidah, melainkan juga merawat memori kolektif sebuah peradaban kota Surabaya. Di sudut legendaris Pasar Atom, aroma gurih santan, manisnya kuah gula malaka, serta kelembutan bubur sumsum berpadu harmonis diatas lembar daun pisang. Stan Bubur Madura Mufarroha, sebuah destinasi kukiner autentik yang telat menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan warga Surabaya di Pasar Atom sejak tahun 1980-an.
Merintis sejak tahun 1980-an, resep turun-temurun keluarga asli Madura ini terus bertahan di tengah gempuran modernisasi digital dan pergeseran tren belanja masyarakat Kota Pahlawan. Saat ini tongkat estafet usaha legendaris tersebut dipegang oleh Ibu Atin (45 tahun). Beliau merupakan cicit dari sang perintis awal bisnis ini. Sebagai penerus yang berdarah asli Madura, Ibu Atin berkomitmen penuh untuk menjaga keaslian rasa yang diwariskan turun-temurun. Konsep kekeluargaan juga sangat kental terasa di lapak ini, beliau juga tidak berjualan seorang diri melainkan bahu-membahu bersama keluarga dan kerabat dekatnya. Kelak usaha ini akan diteruskan ke cicit-cicit mereka juga.
Eksistensi Bubur Madura Mufarroha terbilang luar biasa karena lokasinya berada di Pasar Atom, sebuah pusat perbelanjaan legendaris di Surabaya yang telah mengalami pergolakan zaman dan menjadi saksi bisu berbagai era krusial di Indonesia. Lapak bubur ini bergasil melintasi badai sejarah politik dan ekonomi, mulai periode akhir orde lama, orde baru, reformasi, hingga kini mampu beradaptasi di era digital yang serba canggih.
“Daripada sekarang, Pasar Atom lebih rame dulu. Banyak yang belanja langsung ke pasar tradisional, kalau sekarang paling banyaknya beralih je mall-nya. Cuma ya allhamdulillah, dagangan kami selalu laku karena kita selalu mepertahankan kualitas dan konsisten,” tutur Ibu Atin dengan senyuman hangatnya.
Untuk menikmati seporsi kenikmatan legendaris ini, pengunjung hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp12.000. Harga yang sangat ramah kantong untuk cita rasa kuliner sekaya sejarah ini. Kombinasi rasa manis yang pas, legit, dan gurih menjadikannya sangat cocok sebagai makanan pengganjal lapar di kala lah berbelanja ataupun sebagai hidangan penutup yang sempurna setelah menyantap makanan berat di area kuliner Pasar Atom. Selain menu andalan bubur manis yang terdiri dari bubur sumsum ketan hitam madu lupis dan bubur mutiara lapak Mufarroha juga menyediakan menu gurih berupa lontong sayur serta aneka sate khas menjadikannya pilihan kuliner yang komplit bagi siapa saja yang rindu akan masakan rumah yang autentik.
Penulis: Jasmine Azizah Nur Inayah (24043010201) Editor: Daimler Mahendra Rakawardhana (24043010127)
