Pengusaha Muda Buka Strategi Usaha Kuliner di Fisipreneur Talks 2026

Potret Rama mendapatkan sertifikat sebagai narasumber utama. (Foto: Balkan Alif Hushi Ahmad)


Surabaya - BEM FISIP UPN “Veteran” Jawa Timur menggelar acara kuliah tamu Fisipreneur Talks 2026 di Ballroom Technopark Lantai 2 UPN “Veteran” Jawa Timur pada hari Jumat (22/5/2026). Tema kegiatan tersebut bertajuk “From Zero to Hero” yang mengundang narasumber seorang wirausahawan muda. Acara kali ini diramaikan mahasiswa setempat yang antusias belajar dan berdiskusi mengenai dunia bisnis kuliner langsung bersama praktisi.

Rama Sandy (23), narasumber sekaligus pemilik Kedai Bang Jady, tempat makan nasi telur di Jalan Rungkut Asri Timur 18 No. 27, Rungkut, Surabaya. Ia membangun bisnis kuliner bersama temannya Rafish Jadwa sehingga nama Jady merupakan akronim dari kedua nama mereka. Dalam kesempatan kali ini Rama membagikan strategi bagaimana Kedai Bang Jady dapat berkembang pesat di bawah satu tahun.

Ide di balik Kedai Bang Jady muncul dari hasil pengamatan pada kebiasaan mahasiswa sekitar kampus saat mencari makan malam. Pilihan menu makan malam sekitaran kampus masih tergolong terbatas pada menu yang sama. Akhirnya, Rama melihat peluang untuk menjadi pelopor nasi telur dengan konsep unik di Surabaya Timur.

“Empat bulan masih di halaman depan ruko, bulan ke lima sudah masuk ruko. Buka dari 18:00-00:00 WIB, sekarang mulai jam 08:00 WIB. Dulu karyawan masih dua orang saja, tapi Alhamdulillah sudah naik menjadi sepuluh karyawan,” katanya.

Sejak Kedai Bang Jady awal dibuka, tahap trial and error penyimpanan produk yang memakan waktu empat bulan. Uji penyimpanan dilakukan berkali-kali untuk menjaga konsistensi kualitas produk. Tim mereka berprinsip mulai saja dahulu, lalu disempurnakan seiring berjalannya waktu.

Rama yakin bahwa usaha kuliner sederhana sebenarnya berpotensi menjadi besar, karena kunci utamanya terletak pada cara mengemas dan memasarkan produk. Namun, penting menetapkan target pasar produk sebelum menentukan strategi pemasaran baik secara terpusat maupun tersebar. Ada pun saat pemilihan lokasi usaha justru memudahkan pengusaha mengidentifikasi target pasar.

Membangun usaha kuliner di tengah era digitalisasi menjadi sangat mudah untuk memasarkannya di platform media sosial. Pemasaran dapat dilakukan melalui konten foto atau video. Perkembangan ini menjadi sebuah kemajuan karena banyak orang terdahulu tidak tahu bagaimana dan di mana memasarkan produknya.

“Sekarang pun didukung dengan banyaknya content creator, kalau makanan ada food vlogger. Hal itu menjadi salah satu strategi dari Kedai Bang Jady untuk memasarkan produknya di Surabaya,” ujarnya.

Dirinya mendorong para mahasiswa supaya memanfaatkan  fasilitas dan kegiatan di kampus sebagai sarana pengembangan kemampuan berwirausaha. Masa perkuliahan menjadi waktu yang tepat untuk uji coba untuk terjun ke dunia usaha. Harapannya, pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran di masa mendatang.

“Kita tidak tahu ke depannya akan menjadi apa. Tapi, ketika kita tetap melangkah selama perkuliahan, nanti akan bertemu jati diri cocoknya ke mana. Karena setelah lulus, sudah tidak ada lagi tempat eksperimen,” tegasnya.

Antusias peserta membangun suasana interaktif selama acara berlangsung. Kuliah tamu ditutup dengan sesi tanya jawab dilanjut foto bersama. BEM FISIP UPN "Veteran" Jawa Timur berharap peserta yang hadir dalam Fisipreneur Talks 2026 dapat menambah dan menerapkan pengetahuan baru di bidang bisnis kuliner.

Infografis perbandingan bisnis F&B di Surabaya (Foto: Balkan Alif Hushi Ahmad)

 

Penulis: Balkan Alif Hushi Ahmad (24043010156)
Editor: Gavrila Vanianca Lambe Patayang (24043010136)

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama