Tiap tahunnya harga bahan baku kadang terus merangkak naik dan mengakibatkan harga jual tahu kocek juga ikut naik, namun anehnya tahu kocek Bu Zizi tetap mempertahankan harga jual yang sama tiap tahunya. “Harganya tetap sama sepuluh ribu aja untuk satu porsi,” kata Pingkan. Tahu kocek Bu Zizi menjadi pengingat bahwa di balik naik turunnya harga bahan baku, konsistensi harga jual patut diacungi jempol.
Lebih istimewanya lagi, bukan hanya karena rasanya saja tetapi asal-usul tahunya bukan dari produsen lokal sekitar Surabaya, melainkan dari Jombang, Jawa Timur dan sekalinya mengambil untuk dijadikan stok kedepannya.
Tahu kocek Bu Zizi pernah mengalami penurunan omzet, seperti saat cuaca buruk atau menjelang Ramadhan yang ritme belanja berubah. Namun, hal ini tidak menghambat penjualan tahu kocek Bu Zizi.
“Rencana kedepannya mau nambah pilihan level kepedasannya,” ucap Pingkan. Dilihat dari banyaknya pelanggan tetap yang semakin meningkat, banyak juga pelanggan memberikan saran bahwa tingkat kepedasan bisa ditambahkan ke menu tahu kocek. Waduh! Bisa dilihat seberapa antusiasnya mereka terhadap tahu kocek Bu Zizi.
Puncak keramaian tahu kocek Bu Zizi dimulai dari pukul empat sore hingga malam hari karena banyak sekali mahasiswa pulang dan mencari camilan saat di kos atau di rumah. Nah, ketika Ramadhan Tingkat keramaiannya dari pukul 17.00 hingga malam hari.
Tahu kocek Bu Zizi berlokasi di Jalan Mulyosari, Surabaya (Seberang BMH). Wah! Cocok nih untuk mahasiswa maupun kalangan muda lainnya yang pengen ngemil camilan 3in1 gurih, asin, dan juga pedas jadi satu. Tertarik untuk mengunjungi?
Penulis: Lovita Fatihah Fijrin (24043010012) Editor: Dimas Fajar Maulana (24043010018)


