Kisah Pinky, Kenyataan Berkuliah sambil Bekerja sebagai Barista

Potret Pinky berpose sambil bersiap melayani pelanggan pada siang hari. (Foto: Balkan Alif Hushi Ahmad)


Surabaya -  Tak jauh dari gerbang satu UPN Veteran Jatim, tepatnya di Jl. Rungkut Madya No. 203, Rungkut Kidul, Kecamatan Rungkut, Surabaya, terdapat sebuah kedai kopi langganan mahasiswa setempat bernama Patdua Coffee and Eatery. Sejak buka pukul 09.00 WIB pagi, pengunjung datang silih berganti hingga waktu tutup tiba. Pada sudut belakang meja bar cafe tampak ada seorang staf pramusaji tampak sesekali menatap layar gawainya sambil menunggu kru dapur mendapat pesanan makanan untuk pelanggan selanjutnya.


"Kalau mendadak ada Zoom, aku bilang, 'Re, sorry, aku nanti ada Zoom jam 15:00 WIB, tolong gantiin di kasir, aku pindah ke server'. Server kan antar makanan, jadi masih bisa disambi bawa handphone sama TWS-nya gitu. 'Pinky lagi di Patdua, ya?', kata dosen sampai begitu," ucap Pinky sambil tertawa kecil, barista Patdua Coffee and Eatery yang saat itu tengah mengikuti kelas daring.


Barista tersebut bernama Pinky Avisa Ratri (21), mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur semester enam. Kebijakan program studi di semester ini mewajibkan mahasiswa mengambil kegiatan magang sesuai ketentuan periode dari instansi atau perusahaan terkait. Pinky pun bergabung magang di Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya, khususnya pada produksi konten Instagram @surabaya dan @sapawargasby.


"Mulai dari liputan tentang kegiatannya Pak Eri (Walikota Kota Surabaya), beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemkot mungkin kayak bazaar Ramadhan, kegiatan di Balai Kota, atau mitra manapun yang di-support Pemkot itu kita jadikan konten," ujarnya. 


Sejak Februari, hari-harinya nyaris tanpa jeda. Pagi hingga sore ia habiskan di kantor Diskominfo, lalu berlanjut bekerja shift malam di kafe mulai pukul 19.30-23.30 WIB. Akhir pekan pun bukan waktu beristirahat, justru di situlah ia mengambil shift pagi hingga sore hari mulai pukul 08:30-16:30 WIB.


"Datang bikin-bikin kopi, jadi kasir, waktunya closingan, bersih-bersih, terus pulang. Tapi, kalau weekend, masuk pagi kita prepare kopi, kalibrasi, mesin, kasir, handle keseluruhan operasional, habis itu pulangnya sore," jelas Pinky. 

Bekerja di Patdua bukan kali pertama bagi Pinky menjadi barista. Sebelumnya, ia telah menggeluti dunia kopi selama satu tahun di Toko Kopi Padma Tunjungan.

Perjalanannya bermula saat mendaftar Perguruan Tinggi Negeri melalui Seleksi Nasional Berbasis Nasional (SNBP). Ia menyiapkan rencana cadangan jika tidak lolos, salah satunya dengan melamar sebagai barista di Toko Kopi Padma Tunjungan. Namun, takdir justru mengabulkan keduanya.

"Dari semester satu, selama masa ospek itu udah jadi barista di Padma, pulang ospek langsung shift. Semester tiga, kelar kelas langsung shift, begitu terus dan ternyata bisa-bisa aja. Tapi, kontrakku di Padma selesai ketika aku memutuskan untuk resign karena mau fokus organisasi," jelasnya. 


Selain fokus di akademik, Pinky turut aktif di himpunan mahasiswa dan sukses menjadi ketua pelaksana PKKMB Ilmu Komunikasi 2024. Setelah masanya selesai, ia baru mendaftar di Patdua Coffee and Eatery dengan jabatan barunya sebagai Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi periode 2025-2026. Di waktu yang sama, ia juga tergabung dalam UPN Televisi Jatim sebagai divisi humas.


"Pernah waktu itu program kerja ospek LKMM ilmu komunikasi lagi jalan, paginya harus ke Lab TV dahulu karena ada acara kunjungan—kalau nggak salah. Terus, aku lanjut ganti PDH himpunan karena aku sebagai wakil himpunan ikut mengawas LKMM. Setelah itu, lanjut ke Patdua dan langsung ganti baju kerja," lanjutnya. 


Area bar barista yang menjadi pusat kegiatan di Patdua Coffee & Eatery. (Foto: Balkan Alif Hushi Ahmad)


Rutinitas itu membuatnya harus mengorbankan waktu bermain bersama teman, karena sepulang kuliah atau magang ia langsung bekerja. Ditambah tugas berkelompok, ia masih harus membagi fokus lagi setelah jam kerja. Ritme padat ini sudah ia jalani sejak SMK jurusan broadcasting, saat harus menjalani magang, organisasi, jadwal syuting, sekaligus menuntut ilmu. 


"Kalau secara time management, sejauh ini dari semester satu sampai semester enam, Alhamdulillah tidak pernah berdampak ke IPK. Semuanya stabil, konsisten, pokoknya benar-benar nggak mengganggu sama sekali. Bahkan ikut himpunan dua periode dengan posisi yang berbeda juga masih bisa atasi," ungkapnya. 


Mencari penghasilan tambahan menjadi cara Pinky untuk tidak membebani orang tua meskipun ia menerima program beasiswa dari Pemerintah Kota Surabaya. Bahkan, kini ia turut membantu perekonomian keluarga. Pinky terbiasa menyibukkan diri dalam mencoba banyak pengalaman supaya menemukan kompas hidupnya. 


Lingkungan kerja yang suportif menjadi salah satu alasan ia mampu bertahan. Baginya, kedai kopi bukan sekadar tempat bekerja, tetapi juga ruang bertumbuh. Hal tersebut menjadi penawar dari kejenuhan aktivitasnya sehari-hari.


Bekerja sebagai barista tidak selalu tampak gagah seperti saat melihat mereka sedang membuat latte art. Kemampuan memahami karakteristik pelanggan menjadi prioritas utama. Setiap pelanggan datang dengan karakter yang berbeda, menuntut kepekaan dan kesabaran.


"Hikmahnya sebagai barista adalah kita jadi lebih bisa menghargai orang karena lebih peka. Jadi barista itu melatih skill awareness banget, inisiatif itu bener-bener ada, tanggung jawab juga ada. Gimana caranya bisa menghargai orang, inisiatif kebutuhan customer-mu apa, kamu bisa sadar sekitarmu itu kotor apa nggak, perlu dibenerin apa enggak, sampai apa yang perlu dibenahi," tambahnya. 


Di tengah berbagai pilihan hidup, Pinky memilih jalan yang tidak mudah yaitu kuliah sambil bekerja, namun tetap aktif berorganisasi. Dirinya pun menyadari bahwa perjalanan ini membutuhkan pengorbanan, seperti kewajiban membagi fokus setiap hari sampai harus kehilangan waktu bermain bersama teman-temannya. Semua itu ia lakukan demi membangun karier di masa depan dengan mempersiapkan diri sejak sedini mungkin.

"Aku punya satu kata-kata yang ku simpan sampai sekarang ini. Mereka sedang bermimpi ingin menjadi apa, sedangkan aku sudah mengerjakan dan sudah melampaui apa yang mereka impikan," tutupnya. 


Infografis Mengenai Perbedaan Arabika dan Robusta


Penulis: Balkan Alif Hushi Ahmad (24043010156)

Editor: Gavrila Vanianca Lambe Patayang (24043010136)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama