Surabaya - Kang Bubur, usaha bubur ketan tepatnya yang berlokasi di Jl. Jolotundo No.38, Pacar Keling, Kec. Tambaksari, Surabaya, berhasil menarik perhatian masyarakat melalui tampilan yang modern dengan cita rasa yang tetap khas. Keunikan bubur ini terletak pada penggunaan susu sebagai pengganti santan, yang membuat rasanya berbeda dari bubur ketan pada umumnya.
“Ibu hanya ingin anak-anak yang tidak menyukai santan tetep bisa menikmati bubur ketan hitam, yang notabenenya kudapan tradisional Indonesia, dengan paduan susu dan es krim di harga yang terjangkau,” ujar Sri Ayu
Sri Ayu (56) yang merupakan pemilik yang mendirikan usahanya sejak tahun 2022 dan menghadirkan inovasi di tengah banyaknya persaingan usaha serupa.
Pada awalnya, varian es krim yang ditawarkan hanya terdiri dari tiga rasa. Namun, seiring berjalannya waktu, Ibu Sri bekerja sama dengan salah satu pabrik sehingga kini telah tersedia lebih banyak varian rasa es krim. Target pelanggan dari usaha ini didominasi sekitar 90% dari kalangan anak-anak, remaja, hingga mahasiswa. Meskipun begitu, tidak sedikit juga orang tua yang turut menyukai bubur ketan hitam. Sebagian pelanggan juga datang karena mengikuti tren yang sedang viral, atau yang sering disebut dengan istilah “fomo”.
Popularitas Kang Bubur Surabaya meningkat pesat setelah videonya viral di media sosial seperti Instagram dan TikTok. Dalam tayangan tersebut, menunjukkan bagaimana proses penyajian bubur yang sederhana namun menggugah selera berhasil menarik perhatian ribuan penonton. Meskipun tampilannya kekinian, cita rasa bubur di Kang Bubur tetap mempertahankan resep klasik. Teksturnya lembut dipadukan dengan santan yang gurih serta rasa manis dan harumnya gula jawa yang khas, selain itu tersedia berbagai pilihan topping seperti es krim vanila, keju parut, potongan buah segar, hingga biskuit premium yang dapat disesuaikan dengan selera.
“Kalangan orang tua biasanya lebih suka tidak memakai topping dan memilih bubur original, karena mereka tidak suka dicampur-campur. Istilahnya lebih pakem,” katanya.
Seluruh menu dijual dengan harga yang terjangkau, mulai dari Rp12.000 hingga Rp18.000, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, khususnya pelajar dan mahasiswa. Dengan harga yang relatif ramah di kantong, porsi yang disajikan dinilai cukup memuaskan, serta pilihan topping yang beragam. Menu ini pun cocok dikonsumsi sebagai camilan pada sore hari maupun sebagai hidangan penutup setelah beraktivitas sepanjang hari.
“Sebelum Ramadan, usaha ini biasanya ramai sekitar pukul 11.00 WIB. Namun, karena sering kewalahan, jam operasional diubah menjadi mulai buka pukul 13.00 WIB. Selama Ramadan, jam bukanya tetap sama, yaitu dari pukul 13.00 hingga 22.00 WIB, dengan puncak keramaian setelah salat tarawih hingga sekitar pukul 22.00 WIB,” ujarnya.
Dalam memilih lokasi usaha, Ibu Sri lebih memilih membuka usaha di depan rumah dibandingkan menyewa ruko di mal. Keputusan ini diambil untuk menghemat biaya sewa sekaligus mempertimbangkan kemudahan akses parkir bagi para pelanggan. Sebelumnya, usaha ini sempat berpindah-pindah lokasi, mulai dari kawasan Balai Kota Jimerto hingga warung pujasera. Karena biaya sewa yang terus meningkat, Ibu Sri akhirnya memutuskan untuk mencari tempat yang lebih efisien. Sejak September 2024, usaha tersebut resmi beroperasi di kawasan Tambaksari.
Awalnya, usaha ini hanya menjual bubur ketan dengan menu sederhana seperti es krim dan es serut. Seiring berjalannya waktu, Ibu Sri terus melakukan inovasi dengan modifikasi menu dan uji coba (trial and eror), Dari proses tersebut, ia menghadirkan beragam pilihan topping yang semakin diminati pelanggan. Dalam menjaga kualitas dan cita rasa, Ibu Sri juga menekankan pentingnya penggunaan bahan-bahan premium. Ia memastikan seluruh proses pembuatan dilakukan tanpa tambahan pemanis atau penguat rasa buatan, melainkan menggunakan gula merah asli. Proses memasak juga dilakukan dengan standar tertentu, seperti memastikan air benar-benar mendidih sebelum ketan dimasukkan.
Selain itu, penerapan standar operasional prosedur (SOP) dilakukan secara konsisten untuk menjaga daya tahan bubur tanpa menggunakan bahan pengawet. Bahan seperti susu dipilih dengan kualitas setara produk yang digunakan di kafe, serta seluruh bahan makanan dipastikan memiliki label halal. “Di tengah kenaikan harga bahan baku, Ibu memilih untuk tidak menaikkan harga jual. Sebagai alternatifnya, saya melakukan pengurangan pada porsi bubur, dari sebelumnya satu setengah porsi menjadi satu seperempat porsi. Langkah ini saya ambil agar usaha tetap berjalan tanpa mengurangi kualitas produk yang ditawarkan kepada pelanggan,” katanya.

